Make your Skin Beautiful

Kecantikan berawal dari setiap pilihan yang tepat sehingga tampil dan cantik secara alami meliputi kecantikan tubuh, wajah, kulit, mata dan rambut

  • Home
  • Wanita
  • Kecantikan
  • Kulit
  • Rambut
  • Lingerie
  • Jamu
  • Contact Us
Home » Puan Maharani
Tampilkan postingan dengan label Puan Maharani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puan Maharani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

Mari kita budayakan minum jamu

Jamu telah digunakan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu sebagai obat tradisional. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sebanyak 30,4 persen rumah tangga memanfaatkan pelayanan tradisional dan 49 persen diantaranya menggunakan ramuan jamu. Konsumsi jamu dipercaya dapat menjaga kesehatan dan kebugaran. Mari kita budayakan minum jamu.

Jamu dalam pelayanan kesehatan harus dapat dipertanggungjawabkan dengan pembuktian ilmiah. Kemenkes pun sebelumnya telah menetapkan kebijakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3/2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan.

Pembuktian ilmiah membuat jamu semakin dipercaya di kalangan kedokteran sehingga sudah selayaknya jamu menjadi perbekalan kesehatan dalam pelayanan kesehatan formal.

Sejauh ini jamu sering digunakan untuk memperlancar air susu ibu jamu sehat bagi perempuan. Sementara itu, jamu untuk pengobatan diantaranya jamu sesak napas, jamu rematik, jamu cacingan, jamu ulu hati, dan jamu wasir.

Kini jamu tak hanya didapat dari penjual jamu gendong, tetapi di toko jamu, di mal atau pusat perbelanjaan. Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) juga diminta mengawasi peredaran jamu.

Mari kita budayakan minum jamu
Mari kita budayakan minum jamu

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Cindy Saragih
03.24

Jamu sebagai obat tradisional Indonesia

Khasiat jamu atau obat tradisional Indonesia telah dipercaya secara turun temurun dari nenek moyang. Jamu sebagai obat tradisional Indonesia. Sayangnya, belum banyak bukti ilmiah mengenai khasiat jamu. Untuk itu, saintifikasi jamu pun terus dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Tawangmangu, Solo. 

Koordinator Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus B2P2TOOT Kemenkes RI Danang Ardiyanto mengatakan, jamu sebenarnya bisa menjadi resep dokter kepada pasien di rumah sakit. Namun, khasiat jamu tersebut harus dibuktikan secara ilmiah terlebih dahulu. 

“Tantangannya, bagaimana jamu bisa diterima dokter? Jadi kita berikan bukti ilmiah. Kalau ada bukti ilmiah, dokter mau pakai (jamu),” ujar Danang disela-sela kunjungan media ke B2P2TOOT bersama SOHO Global Health di Tawangmangu, Solo.

Pemberian resep dari dokter juga sebagai upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat Indonesia secara luas terhadap khasiat jamu. Minum jamu secara rutin sebenarnya lebih dimanfaatkan untuk mencegah penyakit. 

Menurut Danang, penggunaan jamu pun dapat menonjolkan obat tradisional yang dimiliki Indonesia. Saat ini baru dua jamu yang telah mendapat sertifikasi ilmiah, yaitu jamu untuk hipertensi ringan dan asam urat. 

Danang mengungkapkan, jamu untuk hipertensi ringan merupakan ramuan daun seledri, kumis kucing, temulawak, meniran, dan kunyit. Sedangkan untuk asam urat diantaranya menggunakan secang, kemuning, dan tempuyung. Jamu lain pun sedang diteliti dan antre mendapat sertifikasi. “Sedang dilakukan uji kepada manusia agar jamu bisa disetarakan dengan obat  modern," kata Danang. 

Ia mengatakan, penelitian membutuhkan waktu yang cukup panjang dan biaya tak sedikit. Ratusan dokter juga telah mengikuti diklat saintifikasi jamu. Para dokter ini kemudian bisa praktek di Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus tersebut. Di klinik ini, para dokter akan meresepkan jamu pada pasien yang umumnya mengeluhkan sakit hipertensi, radang sendi, dan penyakit degeneratif. Jika penyakitnya cukup kompleks, pasien akan dirujuk ke rumah sakit.

Jamu sebagai obat tradisional Indonesia
Jamu sebagai obat tradisional Indonesia
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Cindy Saragih
03.18

Jamu saintifikasi telah lolos uji klinis dinyatakan aman dan berkhasiat

Belum semua dokter menerima dan mau menyarankan pasiennya agar mengonsumsi jamu sebagai pilihan terapi komplementer. Padahal, sejumlah jamu saintifikasi telah lolos uji klinis dinyatakan aman dan berkhasiat. 

Direktur Medis Rumah Sakit Umum Pemerintah Soeradji Tirtonegoro Klaten Djoko Windoyo mengatakan "Sulit meyakinkan dokter yang ada di rumah sakit untuk mau menerima jamu sebagai alternatif terapi komplementer," ujarnya.

"Sebelum menggunakan jamu, dokter pasti ingin ada bukti dulu bahwa penggunaan jamu aman dan bermanfaat. Jadi, perlu waktu untuk memberi pemahaman pada mereka. Saya yakin kalau makin banyak dokter saintifikasi jamu, kian banyak yang menerima jamu sebagai terapi komplementer alternatif," tuturnya.

RS Soeradji Tirtonegoro merupakan bagian dari jejaring saintifikasi jamu Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu, Jawa Tengah. Sejak 2010, RS itu mempunyai poliklinik rosela yang memberi layanan komplementer alternatif jamu. Jamu di poliklinik tersebut dipasok dari B2P2TOOT.

Beberapa jenis jamu yang ada antara lain jamu untuk asam urat, kencing manis, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, obesitas, wasir, rematik, dan batu ginjal. Jamu diberikan berbentuk sediaan rebusan dan kapsul.

Djoko mengatakan, pasien yang disarankan berobat ke Poliklinik Rosela RS Soeradji Tirtonegoro kebanyakan dari dokter spesialis penyakit dalam dan ahli ortopedi. Jamu yang dipakai di poliklinik itu kebanyakan adalah jamu obesitas, kencing manis, darah tinggi, mag, dan kolesterol.

Kepala B2P2TOOT Tawangmangu Indah Yuning Prapti memaparkan, hingga kini pihaknya telah melatih 384 dokter saintifikasi jamu dari beberapa daerah. Harapannya, kian banyak dokter paham khasiat tanaman obat di Indonesia sehingga mau memasukkan jamu dalam pengobatan. Namun, dari total jumlah dokter saintifikasi jamu tersebut, hanya 27 persen di antaranya yang aktif menjadikan jamu sebagai terapi bagi pasien.

Jamu saintifikasi telah lolos uji klinis dinyatakan aman dan berkhasiat
Jamu saintifikasi telah lolos uji klinis dinyatakan aman dan berkhasiat
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Cindy Saragih
03.12

Pemerintah Indonesia mendorong dan mendukung saintifikasi jamu

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menyatakan, pemerintah mendorong dan mendukung saintifikasi jamu. Itu sebagai upaya melestarikan dan membudayakan jamu dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah Indonesia diharapkan mendorong dan mendukung saintifikasi jamu.

Untuk melindungi jamu tradisional dan jamu hasil riset modern, Puan meminta jamu segera dilindungi. Pihaknya akan bekerja sama dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk memproses paten jamu secara cepat. "Jangan sampai ada (negara lain) yang mengklaim, jangan sampai dipaten mereka," kata Puan saat meluncurkan lima jamu saintifik hasil riset Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Lima jamu saintifik yang diluncurkan adalah jamu hermorhoid guna mengobati penyakit wasir, jamu untuk dispepsia (nyeri lambung), jamu untuk osteoartritis (nyeri sendi), hipertensi ringan, dan jamu untuk hiperurisemia (kadar asam urat tinggi). Puan minta jamu saintifik hasil riset itu dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan umum sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional.

Jamu merupakan warisan budaya bangsa. Karena itu, kata Puan, semua elemen, baik pemerintah, akademisi, dunia usaha, maupun komunitas masyarakat, diharapkan selalu mempromosikan jamu sebagai tradisi dan budaya kesehatan bangsa.

Puan menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Pertanian agar fokus mengembangkan pertanian tanaman obat. Pengembangan jamu akan membantu petani tanaman obat. Tanaman obat juga memiliki potensi ekspor besar.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, penelitian jamu saintifik di B2P2TOOT Tawangmangu dilakukan sangat ilmiah, dari proses meneliti tanaman di laboratorium hingga uji klinis. Jamu saintifik campuran beberapa tanaman misalnya jamu hipertensi campuran daun kumis kucing, pegagan, dan seledri.

Selama ini, masyarakat tahu khasiat jamu berdasarkan pengalaman empiris. Menurut penelitian sosiologi kesehatan 2010, 59,84 persen orang Indonesia mengonsumsi jamu.

Pemerintah Indonesia mendorong dan mendukung saintifikasi jamu
Pemerintah Indonesia mendorong dan mendukung saintifikasi jamu
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Cindy Saragih
03.05

Jamu merupakan warisan turun menurun yang harus dipertahankan

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mengembangkan obat-obatan dari bahan alami atau yang dikenal dengan jamu. Dengan adanya program saintifikasi jamu, para peneliti melakukan uji klinik terhadap jamu untuk menjamin keamanan penggunaannya.

Sejumlah jamu yang berkhasiat untuk kesehatan ini juga akan dipatenkan. Kepala Balitbangkes Kemenkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan, tahun 2014 ini sedang diajukan 8 paten dari tim peneliti Balitbangkes Tawangmangu, Jawa Tengah.

Jamu merupakan warisan turun menurun yang harus dipertahankan. Delapan paten yang diajukan itu adalah komposisi formula jamu untuk obesitas, jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, hepatoprotektor atau pelindung hati, anemia defisiensi besi, batu saluran kemih, hemoroid derajat I-III, osteoarthritis sendi lutut, dan jamu sebagai pelancar ASI (air susu ibu). Paten jamu tentunya sangat bermanfaat dan melindungi peneliti kita dalam hal hak atas kekayaan intelektual.

Tjandra mengatakan, saat ini ada beberapa paten jamu yang sudah terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Jamu tersebut yaitu, Buah Krangean (Litsea cubeba) untuk afrodisiaka yang (didaftarkan tahun 2010), komposisi herbal penurun tekanan darah untuk hipertensi ringan (didaftarkan tahun 2013), dan komposisi herbal untuk hiperurisemia (didaftarkan tahun 2013).

Tjandra berharap agar jamu tidak diklaim negara lain. Jamu telah dikenal sejak zaman nenek moyang dan digunakan turun temurun oleh masyarakat Indonesia.

Tjandra pun memastikan bahwa jamu adalah obat tradisional yang berasal dari Indonesia. Ia menjelaskan, jamu berasal dari kata Jampi Usodo yang mempunyai arti ramuan kesehatan disertai dengan doa.

Tjandra mengatakan, bukti sejarah tentang jamu sendiri terdapat pada relief Candi Borobudur (tahun 772 SM), yakni lukisan tentang ramuan obat tradisional atau jamu. Bukti lainnya juga terdapat pada relief Candi Prambanan, Candi Penataran (Blitar), dan Candi Tegalwangi (Kediri) yang menerangkan tentang penggunaan jamu pada zaman dahulu.

Jamu merupakan warisan turun menurun yang harus dipertahankan
Jamu merupakan warisan turun menurun yang harus dipertahankan

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Cindy Saragih
02.58

Jamu adalah warisan bangsa yang harus menjadi identitas masyarakat Indonesia

Obat-obatan herbal atau jamu sudah ribuan tahun dipakai secara turun temurun oleh bangsa Indonesia untuk memelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Karenanya jamu sebagai salah satu produk warisan budaya dan kebiasaan minum jamu seharusnya menjadi identitas bangsa Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Pembangungan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. “Jamu adalah warisan bangsa yang perlahan mulai tergusur dengan obat-obatan herbal dari negara lain. Kebiasaan minum jamu sudah ada sejak dulu kala, sudah ada sejak Majapahit, bahkan dalam relief Borobudur juga ada," katanya disela-sela kunjungan kerja ke Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Departemen Kesehatan, Kebun Tanaman Obat Dlingo di Tawangmangu, Jawa Tengah.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, sebanyak 59,84 persen penduduk di Indonesia minum jamu. Hal ini membuktikan bahwa tanaman obat dan jamu memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. 

Puan juga berharap kebiasaan minum jamu yang meluas di berbagai kalangan bisa ikut berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan masyarakat. 

Salah satu upaya untuk mengembangkan jamu, Selasa lalu diluncurkan lima jamu saintifik hasil riset B2P2TOOT. Lima jamu itu meliputi jamu hermorhoid guna mengobati penyakit wasir, jamu untuk dispepsia (nyeri lambung), jamu untuk osteoartritis (nyeri sendi), hipertensi ringan, dan jamu untuk hiperurisemia (kadar asam urat tinggi).

Dalam peluncuran jamu saintifik tersebut dilakukan juga kegiatan minum jamu bersama yang diikuti ribuan pelajar SMA/SMK di alun-alun Sukoharjo, salah satu daerah sentra jamu di Jawa. Turut hadir dalam acara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah AAGN Puspayoga, serta Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya.

Sejauh ini, kata Puan, pemerintah sudah mendeteksi adanya 850 jenis tanaman obat yang sebagian sudah rampung diteliti. "Jamu yang terbukti secara empirik dan ilmu pengetahuan akan dipatenkan menjadi warisan Indonesia. Ini sudah kita temukan. Agar jangan diklaim negara lain," katanya.

"Dengan adanya saintifikasi jamu, maka jamu nantinya menjadi jamu yang aman dikonsumsi, memiliki khasiat nyata dan teruji secara ilmiah," imbuh Puan.

Jamu adalah warisan bangsa yang harus menjadi identitas masyarakat Indonesia
Jamu adalah warisan bangsa yang harus menjadi identitas masyarakat Indonesia

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Cindy Saragih
02.49
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)
Find Us :
Tweet oleh @Cindy_SeRaGolf

Terpopuler

Kategory

Bau Badan Bau Mulut Bra Haid Jamu Jerawat Kecantikan kulit Kecantikan rambut Lingerie pakaian dalam Perawatan Wajah Puan Maharani Tips kecantikan tubuh sexy Wanita
Copyright 2013 Make your Skin Beautiful - All Rights Reserved